Rabu, 11 November 2009

2 Mei 2008

Inilah …

Perasaan yang tak mungkin mereka rasakan

Perhatian yang tak bisa mereka goyahkan

Perhiasan yang pernah mereka dapatkan

Kebahagiaan yang tak akan mereka berikan


Karena …

Canda tawanya menjadi senyum di hatiku

Sinar matanya menjadi cahaya dalam gelapnya jiwaku

Kehadirannya menjadi kekuatan dalam ragaku

Tangis sedihnya menjadi pedang yang siap membunuhku


Mereka takkan pernah percaya

Sosok ini benar-benar nyata keberadaannya

Bagiku …

Inilah anugrah Sang Pencipta

Karena ku bisa lalui masa-masa indah bersamanya

29 April 2008

Rintihan raga ini tak lagi tertahan

Disaat dirinya dalam naungan tangis kesedihan

Jiwa ini terdiam, tertunduk pada keheningan malam

Disaat semilirnya angin sebarkan rindu yang tak teredam


Akankah terasa lagi …

Naungan tawa kebahagiaan dari hati yang telah terbagi

Akankah ternikmati …

Hembusan angin kebersamaan yang akan mengusir sepi

Akankah terobati …

Segala luka yang telah teripta di relung hati

Akankah segalanya dapat segera kumengerti …

Tuk akhiri rumitnya kisah cinta yang tak bertepi


Hanya dia … yang akan menyempurnakan

Untuk dia … segalanya kulakukan

Demi dia … ku terus bertahan

Karena dia … cinta pertama yang tak tergantikan

25 April 2008

Sewaktu …… anganku beradu

Hadirkan tanya dalam indahnya kehidupan dunia semu

Selama …… jiwa ini menanti hadirnya cinta

Sosok impian yang sekian lama mempesona

Seseorang …… yang tak mungkin terbuang

Meski diri ini tak mampu buktikan sayang

Namun ……

Sejenak …… diri ini beranjak

Segenap lamunan terpisah dari alunan-alunan sajak

Sekejap …… mata ini berhenti menatap

Raga ini merasa sesuatu yang tak lengkap

Sesaat …… segala kepastian tersirat

Akhir jalinan kasih yang telah mengikat

12 Januari 2008

Entah apa yang terus kupikirkan

Saat segalanya mulai kulupakan

Saat sejuta rasa mulai terhempaskan

Saat keberadaanmu enggan lagi memberi kehidupan


Entah apa lagi yang akan tersisa di hati

Saat bayang dirimu terus berlari

Hadirkan luka dalam gelapnya jiwa yang terus menanti

Halangi mimpi tuk segalanya yang kian berarti


Apakah arti semua ini

Bila dirinya tak mampu lagi menyinari

Bila senyumnya tak mampu lagi mengusir sepi

5 Juli 2007

Tanpa hangatnya kasih dan sayang yang kau berikan

Ku lalui dingin dan gelapnya malam yang kian mencekam

Tanpa manis senyuman yang senantiasa membawa kesejukan

Kau ciptakan luka di palung hati yang paling dalam

Telah sekian banyak cara untukku melupa

Bayang dirimu yang telah memberika sejuta rasa

Semua kisah yang telah kita lalui bersama

Namun semuanya ……

Semakin menambah derita yang kian menerpa

Ku tak ingin akhiri ini dengan hati yang membeku

Membuang semua rasa yang tercipta untukmu

Karena dirimu begitu ku rindu

Di setiap langkah saat kujauh darimu

30 Mei 2007

Malam yang penuh dengan awan mendung

Seolah menggambarkan hai yang sedang murung

Karena kebebasan raga kian terkurung

Karena derasnya cinta kian terbendung

Disaat semua itu datang menerjang

Akankah bayang keraguan segera menghilang

Diantara indahnya taman asmara yang luas terbentang

Dengan bunga kasih yang elok dan terus berkembang

Apakah diri ini bisa memenuhi

Segalanya yang ia kehendaki

Jika suatu saat nanti data memiliki

Sinar rembulan dari raut wajah sang bidadari

Penuh sudah segala rongga di dada

Oleh cahaya bintang dari sorot kedua matanya

Oleh semilirnya angin dari hembusan nafasnya

Oleh segala rasa dari manis senyuman di bibirnya

Mungkinkah ini semua lenyap tak tersisa

Lukisan malam yang mengisi ruang hampa di jiwa

Kenangan-kenangan yang dilalui bersamanya

Hari demi hari yang penuh canda dan tawa

19 Mei 2007

Terobatilah sebagian luka

Ketika dirinya kembali tersenyum dan berkata

Walau hanya sepatah kata

Yang terdengar sesaat saja

Sebagian lagi juga akan terobati

Jika diri ini dapat memiliki

Manis senyuman sang bidadari

Pujaan bagi setiap lelaki

Namun semua hanyalah seonggok cita

Yang takkan pernah terlaksana

Diriku dan dirinya kian berbeda

Bagai air yang kian mengalir

Dan api yang terus membara

Disaat hembusan angin yang begitu dingin

Datang dan menerjang manisnya cinta yang terjalin

Menjadikan hati ini enggan lagi tuk selalu yakin

Akan bayang dirinya yang sekian lama menjaga batin

Mungkinkah disaat itu terobati segala luka

Karena diri ini tak mungkin memilikinya

Dirinya bagai sumber kehidupan di dunia

Namun diri ini hanya sebatas semangat yang terus membara

4 Mei 2007

Saat diriku tersandung terjatuh

Terbaring di atas hamparan rumput yang tumbuh

Memandang kosong ke atas awan yang kian menjauh

Awan-awan yang penuh dengan gemuruh


Diri ini tak sanggup lagi menahannya

Karena manisnya cinta yang diminta

Hanya segelintir yang memasuki dada

Karena dirinya enggan lagi tersenyum ataupun berkata


Kini sang hujan datang menghantam

Bagaikan pedang-pedang cinta nan tajam

Yang menyerbu dan menikam

Jiwa yang hampa dan juga kelam


Kuharap hujan segera berhenti

Munculkan kembali sinar sang mentari

Tampilkan indahnya pelangi

Hangatkan dan warnai kekosongan hati ini

17 April 2007

Entah kapan kuharus berhenti

Untuk terus menulis lagi

Ku hanya mencoba mengisi kekosongan hati

Yang telah ditinggal pergi sang bidadari

Yang terus menemani walau saat ku sendiri

Menghadapi kerasnya kehidupan dunia ini

Ku tak ingin jika harus berlari

Ku tak akan menghindari

Akan selalu kucaoba tuk menghadapi

Karena ku yakin kau akan mengerti

Bahwa sayangku padamu tak pernah mati


Aku yakin dengan pilihan hatiku

Karena takkan ada lagi kata ragu

Cintaku padamu tidaklah semu

Hanyalah padamu semua rasa ini tertuju

12 April 2007

Saat rongga di dada mulai penuh

Dengan segala perihal yang begitu keruh

Membuat hidup kian jenuh

Menambah berat beban di tubuh

Sekian banyaknya putaran sang waktu

Setelah kejadian itu berlalu

Namun berbagai masalah silih berganti menghampiriku

Saat dirimu kian menjauh dari lubuk hatiku

Ku tak bisa berhenti bertanya

Mengapa diri ini mengalaminya

Cobaan yang teramat berat dirasa

Karena tanpamu hidupku hampa

Semuanya tiada berarti

Hanya keyakinan yang terlalu tinggi

Bila diri ini ingin memiliki

Pujaan bagi setiap lelaki

Si bodoh ini hanya bisa memantau

Ragamu saat berdiam ataupun bergurau

Itupun cukup untuk menghalau risau

Dan menenangkan hati yang kacau

7 April 2007

Telah sekian lama kita berjumpa

Telah sekian kali kita bertatap muka

Namun karena beberapa kata

Sikap kita kian berbeda

Hingga tak ada satupun kata

Yang terlontar dari mulut kita

Apakah ini berarti

Hubungan kita cukup sampai disini

Seolah tak saling kenal kembali

Seolah terpisah oleh luasnya hutan berduri

Antara pecundang sejati

Dan kesempurnaan sang mahadewi

Disaat semua cahaya mulai padam

Disaat semua datang keheningan diantara gelapnya malam

Disaat butiran-butiran hujan menghantam

Jiwa ini terasa akan segera karam

Namun satu yang membuatnya enggan tenggelam

Adalah cinta yang telah lama terpendam

3 April 2007

Saat kulihat manis senyumnya

Bawaku terbang ke dunia fana

Saat kudengar unik suaranya

Bawaku menjauhi segala duka

Kuyakin dialah dewi dari surga

Karena dia begitu sempurna

Kuharap dapat menenangkanku dari segala coba

Kuharap dapat menemaniku saat senja tiba

Namun tak dapat kumengerti

Dia selalu mengisi hati ini

Namun tak dapat diri ini memiliki

Mungkin hingga tiba saat tubuh ini tak lagi berfungsi

Walau dewi-dewi lain kian terbayang

Namun hanya dialah satu-satunya yang kusayang

Sayang yang bagaikan batuan karang

Yang kokoh meski jutaan ombak menerjang

Takkan termaafkan jiwa raga ini

Bila membuat sang dewi menangis lagi

Akan kubuat dia tersenyum kembali

Meski dengan berbagai cara yang begitu menyakiti

1 April 2007

Inikah awal dari sebuah akhir

Yang telah menjadi takdir

Sang pecundang yang kian tersingkir

Dari cintanya yang telah lama diukir

Dapatkah diri ini melewatinya

Rintangan yang begitu berat di depan mata

Walau dengan berbagai cara

Namun tanpa sepatah kata

Yang meluncur dariku atau darinya

Diri ini begitu tertekan

Tak mampu lagi untuk bertahan

Menghadapi semua cobaan

Yang meracuni perlahan-lahan

Cinta yang telah lama tesimpan

Jika ini akhir cerita kita

Kuharap akhir yang bahagia

Seperti saat sedia kala

Saat saling bertatap muka

Bercanda dan tertawa bersama

28 Maret 2007

Mengapa hal ini kembali terjadi

Mata ini enggan terpejam lagi

Setelah berbagai kejadian melelahkan ku alami

Tanpa mengenang dirinya di hati

Tak tahukah dia jika raga ini begitu letih

Jika cinta ini selalu merintih

Karena luka yang teramat perih

Yang terbalut nuansa pedih

Namun rasa ini tersamar

Diantara hamparan rindu yang tersebar

Namun hidup ini terasa hambar

Bila bayang dirinya di hati kian memudar

Namun takkan ku ulangi lagi

Agar jiwa raga ini tak sakit kembali

Akan selalu ku simpan senyumnya di hati

Tuk dapat lalui cobaan hari demi hari

23 Maret 2007

Telah ku coba untuk terpejam

Bebaskan hati yang tenggelam

Oleh bayang kehidupan nan kelam

Tatkala datang keheningan malam

Enggankah mata ini tertutup

Meski semua cahaya telah meredup

Ku rasa diri ini belum cukup

Berharap memiliki dirinya yang begitu takjub

Apakah ini semua

Akan segera terlaksana

Atau hanya sebuah asa

Yang hanya sia-sia belaka

Apakah dia tetap membekas di kalbu

Atau terganti oleh yang baru

Karena dia selalu ku rindu

Diantara dinginnya gelap malamku

Sanggupkah diri ini bertahan

Siapkah diri ini berkorban

Demi segala kebahagiaan

Yang dapat diciptakan

Tuk dirinya yang selalu didambakan


Meski keraguan terus menyelimuti

Akan hasrat tuk memiliki

Dirinya yang selalu di hati

Kesabaranlah satu-satunya kunci

Yang dapat mengakhiri semua ini

19 Maret 2007

Rintik hujan yang begitu deras

Tak mampu dinginkan gejolak di hati yang kian memanas

Setelah memandang sesosok paras

Yang memberikan sejuta gagas

Aku tak bisa berhenti berfikir

Bagaimana lagi caraku memberi tabir

Atas manis senyuman yang melekat di bibir

Atas indah matamu yang seindah batuan safir

Sekarang diriku tersadar

Bayang dirimu tak bisa memudar

Diriku tak bisa menghindar

Dari api cinta yang terus berkobar

Dari badai rindu yang terus mengejar

Kini tak lagi ku ragu

Dirimu sungguh berarti bagiku

Keberadaanmu adalah semangat hidupku

Karena hanya namamu……

Yang terukir di lubuk hatiku

18 Maret 2007

Daun-daun bergoyang tertiup angin

Malam demi malam yang begitu dingin

Selalu ku rasakan bersamamu ku ingin

Dengan untaian kasih yang kita jalin

Tapi……

Mengapa semua ini terjadi

Tak bisakah ku memiliki

Kebersamaan demi sebuah cinta sejati

Yang telah sekian lama tertanam di hati

Akupun terdiam membisu

Hadapi semua ini dengan hati yang membeku

Walau semua rasa di jiwa telah lenyap tersapu

Namun rasa sayangku padamu tetap membekas di kalbu

Tak dapat ku sangka

Inikah akhir dari semua cerita

Yang telah kita lalui bersama

Di dalam suka maupun duka

15 Maret 2007

Untuk apakah diri ini termangu

Demi siapakah hati ini berseru

Dimana lagi harus kucari bayangmu

Sampai kapankah ku harus menunggu

Ku berpikir bagaimana lagi caraku mengadu

Di benakku hanya tersimpan tanya mengapa engkau berlalu meninggalkanku

Dalam kesunyian aku mencari

Jawaban rindu yang terus menyakiti

Di bawah terik mentari aku menanti

Kehadiranmu wahai penyejuk hati

Dalam bayang keraguan yang senantiasa menguasai

Namun ku takkan pernah menyerah

Meski raga ini begitu lelah

Raga yang penuh rasa bersalah

Raga yang selalu kalah

Saat berperang melawan amarah

Namun selalu kucoba melangkah

Hadapi semua cobaan meski tiada arah

10 Maret 2007

Meski malam begitu gelap

Mata ini enggan pula untuk terlelap

Meski mulut ini terbekap

Namun gelora di hati tetap meluap

Walau rembulan tak bersinar

Cinta ini terus berpijar

Seolah tak henti untuk mengejar

Sesuatu yang belum terbongkar

Dibalik tawaku kubersandiwara

Mencoba tuk sembunyikan hati yang terluka

Yang robek karena tajamnya pedang-pedang cinta

Walau ekspresi dapat menutupi

Namun kejujuran hati tak bisa dibohongi

Untuk itu aku bersedia menanti

Jawaban pasti untuk segera mengakhiri

Semua rasa yang terus menghantui

10 Maret 2007

Dalam kesunyian aku menanti

Di bawah sinar rembulan aku merenungi

Bagaimana cara tuk menyikapi

Rintangan yang terus menghalangi

Keraguan yang senantiasa menaungi

Langkah tuk memiliki pujaan hati

Entah apa yang harus ku lakukan

Ratusan lagu telah kudengarkan

Ribuan kata telah kucurahkan

Lewat puisi pula kucoba tenangkan

Perasaan yang begitu menyakitkan

Getaran-getaran cinta yang merambat

Kuharap dapat menjadi obat

Aliran-aliran darah yang tersumbat

Karena haya padamu hati ini tertambat

9 Maret 2007

Do you know thousands of the stars in the sky

Do you know the warm of the sun at the day

Do you know there’s you leave me I’ll be die

This is my feel about you that makes me fly

My adventure that is new

The task that I knew

The experience during I grew

Wouldn’t be create without your clue

My heart began into insensibility

My mind felt silent in the feast of this country

Your position in my spirit to be good for me

I can’t imagine if I spent this life only

7 Maret 2007

Apakah di dunia

Tak ada suka tanpa duka

Tak ada cinta tanpa sengsara

Yang meracuni sucinya jiwa

Mengapa cuaca yang cerah

Mengapa derasnya aliran darah

Seolah tak pernah singgah

Di dalam hati yang gundah

Bercampur dengan amarah

Apakah hati ini sudah mati

Apakah detak jantung mulai berhenti

Terbuang dalam curamnya tebing yang tak bertepi

Semuanya pergi begitu saja

Tinggalkan diriku yang penuh luka

Tersudut dalam gelapnya neraka dunia

6 Maret 2007

Luluhkan hatiku saat pertama memandangmu

Ujian dan cobaan tak dapat mengurangi sayangku padamu

Luapan cinta yang menggenangi jiwaku

Untaian kasih yang melilit tubuhku

Tuk satu cinta di rongga hatiku


Hari demi hari kulalui hidup ini

Atas nama cinta kujalani sisa waktu di dunia

Namun terasa berat semuanya

Disaat ku berdiri sendiri tanpa dirimu di sisi

Aroma harum tubuhmu satu-satunya yang tersisa

Yang memenuhi ruang hampa di dada

Angin bergulir, berhembus melewati raga

Nan semakin manambah dahaga

Ingin sekali ku miliki dirimu tuk obati segala luka di jiwa

10 Januari 2007

Mimpiku

Tentangmu

Beradu

Berseru

Mengaduh

Harus

Bertemu

Harap

Tetap

Menatap

Tapi……

Kabut

Merajut

Halangi

Kaki

Menari

Mengejar mimpi

3 Januari 2007

Aku melakukan ini semua karena “AKU MASIH SAYANG” dan mungkin kamu “CINTA TERAKHIRKU”. Aku mulai merasa kalau “JOMBLO” itu ngga enak. Tiap “SABTU MINGGU” sendirian, merenung “MENUNGGU PAGI”, berharap ada “ANGIN” yang mau menyampaikan “SURAT CINTAKU YANG PERTAMA” ini.

Aku bosan kalau tiap hari Cuma “CURI-CURI PANDANG” darimu. “APA ARTINYA CINTA” diciptakan di dunia ini kalau hidup bagai di “RUANG RINDU” tanpa adanya seorang “SANDARAN HATI”. “ANDAI KU TAHU” dari dulu kalau cara ini lebih baik.

Mungkin aku bukan “PRIA TAMPAN” dan “BUKAN PILIHAN HATIMU” yang “HANYA BERMODAL CINTA”

AKHIRNYA KU MENEMUKANMU”. Kamu bagaikan “BINTANG DI SURGA” yang turun melalui “LANGIT 7 BIDADARI” yang masuk ke lubuk hatiku yang paling dalam. Aku “YAKIN” kamulah “SATU-SATUNYA” pilihanku.

Ku akui kalau aku “LELAKI BUAYA DARAT” dan :PECINTA WANITA” tapi kemarin,”HARI INI, ESOK, DAN STERUSNYA” aku akan selalu berdoa untuk bisa memilikimu.

Mungkin “AKU ADA KARENA KAU ADA” di dunia ini untuk selalu menyayangimu bahkan hingga sampai ke “SURGA-MU”. Aku tak ingin kalau kita tercpta “BAGAI AIR DAN API”.

Sebenarnya aku juga tak mau kalau kamu “BENCI BILANG CINTA”,”AKU MASIH DISINI” untuk “MENANTI SEBUAH JAWABAN” darimu “SAMPAI MENUTUP MATA”. Aku memang “PENGECUT” yang tak berani mengatakan langsung “KEPASTIAN YANG KUTUNGGU” darimu, “DARA MANISKU”. Akulah “PEMUJA RAHASIAMU”, “AKU T’LAH JATUH CINTA “ padamu “HINGGA AKHIR WAKTU”. Aku ingin bertanya “ADA APA DENGANMU”, mangapa “AURA”mu mulai pudar di bawah terangnya bulan malam ini. “IJINKAN AKU MENYAYANGIMU” walaupun “SAAT JARAK MEMISAHKAN” kita.

Jangan kau “HAPUS AKU” dari rongga di hatimu dan jangan kau ragukan cinta yang sesungguhnya dariku karena “SEMAKIN HARI SEMAKIN CINTA” diriku padamu. Takkan ada lagi kata “AKU, DIRIMU, DIRINYA” dalam “CINTA PUTIH” kita dan takkan ada lagi “CINTA YANG LAIN”.

I’ll never forget you because you’re always in “MY HEART” forever.

AKU CINTA PADAMU, TELAH TERTANAM SEKIAN LAMA KAN KUJAGA SELAMA-LAMANYA. ANDAI KAU TERKEJUT, MAAFKANLAH AKU, YANG KU MAU HANYA KEJUJURAN LEPAS DARI MULUTKU INI.”